tugas agus

 


 
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
 
 
 
 
  
 
 

 
 
MAKALAH


 
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
 
 
 
 
  
 
 

 
 
 
 
IPS 


 
 
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
  
 
 
 

 



 
 
 
Afrilla Gunadi
AGUS PRASETYO


 
 



 
 
 
Dicky Julian
m. Daniel Setiawan


 
 
 


 
 
 
 
VI-i

                               

Adalah Seorang Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. 
Ia disebut-sebut
sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) 
yang telah masuk
Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta -pesantren yang 
dikelola Sunan Ampel. Ibu
Sunan Ampel (istri Maulana Malik Ibrahim) juga putri penguasa Campa ketika 
Majapahit melemah dan
terjadi pertikaian internal, Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan 
Majapahit dan membangun
Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri. 
Berdirilah Kesultanan Demak
pada 1475 atau beberapa tahun setelah itu.
     

Kelahiran Demak tersebut mengakhiri masa Kerajaan Majapahit. Konon  sebagian  
penganut Hindu
kemudian hijrah  ke Bali dan sebagian mengasingkan diri ke Tengger. 

Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa pengganti Raden Patah adalah Pangeran 
Sabrang Lor. Dia yang
menyerbu Portugis di Malaka pada 1511. Pangeran Sabrang Lor ini tampaknya 
adalah Dipati Unus menurut
sumber Portugis. Pada 1524-1546, kekuasaan Demak dipegang oleh Sultan Trenggono 
yang dilantik oleh
Sunan Gunung Jati -Sultan Cirebon yang juga salah seorang "walisongo". 

Dalam buku "Sejarah Ummat Islam Indonesia" yang diterbitkan Majelis Ulama 
Indonesia, Trenggono
banyak membuat langkah besar. Pada masanya, Sunda Kelapa (kini Jakarta) 
digempur. Berbagai wilayah
lain ditaklukkannya. Namun ia tewas dalam pertempuran menaklukkan Panarukan - 
Jawa Timur. Ia diganti
adiknya, Sunan Prawoto, yang lemah. Banyak adipati memberontak. Prawoto dibunuh 
Adipati Jipang, Ario
Penangsang. 

Demak berakhir. Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijaya -menantu 
Trenggono-memindahkan kerajaan ke
Pajang. Atas bantuan Senopati, anak Ki Ageng Pemanahan, Ario Penangsang dapat 
dikalahkan. Senopati
dijadikan menantu Sultan. Begitu Adiwijaya wafat, dia mengambil alih kekuasaan 
dan memindahkannya ke
Mataram. 

Senopati berkuasa dengan tangan besi. Legenda rakyat menyebut ia membunuh 
menantunya sendiri, Ki
Mangir, dengan menghantamkan kepala korban ke batu. Ia digantikan anaknya, 
Pangeran Seda ing Krapyak
yang meninggal pada 1613. Pemerintahan dilanjutkan oleh anak Seda ing Krapyak, 
Mas Rangsang yang
kemudian bergelar Sultan Agung (1613-1645).

Sultan Agung memegang erat kekuasaan dengan gaya yang anggun. Wilayah demi 
wilayah ditaklukkannya
untuk tunduk ke Mataram. Adipati Ukur di Sumedang diserangnya. Panembahan Kawis 
Gua -pelanjut Sunan
Giri- berhasil dibekuk dan ditawan di Mataram. Blambangan digempur. 

Kesultanan Cirebon diikatnya dengan perkawinan. Putri Sultan Agung menikah 
dengan Pangeran Cirebon.
Adipati Surabaya yang memberontak dikalahkannya, lalu Pangeran Pekik, putra 
adipati itu diambilnya
sebagai menantu. 

Ia juga mengirim utusan ke Mekah, menggunakan kapal Inggris, untuk memperoleh 
gelar Sultan. Tahun
1641, gelar itu diperolehnya. Jadilah Mataram bukan hanya pusat kekuasaan namun 
juga pusat Islam di
Jawa. Sultan Agung mengubah penanggalan Jawa dari Tahun Saka menjadi Tahun 
Hijriah. Ia juga
memerintahkan para pujangga kraton untuk menulis 'Babad Tanah Jawi'. 

Setelah era Demak, Sultan Agung adalah satu-satunya kekuasaan yang berani 
menggempur asing. Pada
1618, VOC Belanda bertikai dengan Jepara yang berada di pihak Mataram. Pada 
1628 dan 1629, Sultan
Agung dua kali menyerang markas VOC di Batavia. Upayanya gagal setelah gudang 
persediaan makanannya
dibakar Belanda. 

Pada Februari 1646, Sultan Agung wafat. Ia dimakamkan di puncak bukit imogiri 
/daerah wonosari
jogya, komplek pemakaman yang dibangunnya pada 1631,dan sekarang menjadi 
komplek pemakaman raja raja
tarh Mataram dari Solo dan Jogyakarta 

Sang anak, Amangkurat II, seorang ambisius. Ia ingin sesegera mungkin naik 
tahta menganti ayahnya.
Ia bersama seorang Madura, Trunojoyo, untuk memberontak. Trunojoyo menguasai 
kerajaan. Pada 1677
itu, di saat rakyat tertimpa musibah kelaparan hebat, Amangkurat I 
terlunta-lunta mengungsi hingga
meninggal di daerah Tegal. Sejak Amangkurat I,nampaknya kekuasaan di Jawa 
sepenuhnya dalam pengaruh
pihak Belanda. 

Amangkurat II kemudian berkoalisi dengan Belanda untuk mengalahkan Trunojoyo. 
Bahkan Amangkurat II
menikam sendiri perut sahabat dekatnya tersebut. Amangkurat II ini yang 
menurunkan Dinasti
Pakubuwono di Solo dan Hamengkubuwono di Yogya. Dari Pakubuwono kemudian pecah 
Dinasti Mangkubumi.
Sedangkan dari Hamengkubuwono lahir Dinasti Paku Alam.

Masjid Agung Demak

     Menurut legenda, masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama-sama 
dalam tempo satu
malam. Babad Demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 
(1477) yang ditandai
oleh candrasengkala "Lawang Trus Gunaningjanmi", sedang pada gambar bulus yang 
berada di mihrab
masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini 
berdiri tahun 1479. 
     

Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian 
serambi berukuran 31 m
x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), 
yang dibuat oleh
empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan 
Ampel, sebelah barat daya
buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang 
sebelah timur laut yang
tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong 
balok yang diikat
menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya 
dengan delapan buah
tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus 
atau pangeran Sabrang
Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520. 

Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. 
Wali inilah yang
berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga juga 
memperoleh wasiat antakusuma,
yaitu sebuah bungkusan yang konon berisi baju "hadiah" dari Nabi Muhammad SAW, 
yang jatuh dari
langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid itu.

Memasuki pertengahan abad XVII, ketika kerajaan Mataram berdiri, pemberontakan 
pun juga mewarnai
perjalanan sejarah kekuasaan raja Mataram waktu itu.

Sejarah yang sama juga melanda kerajaan Demak. Kekuasaan baru yang berasal dari 
masuknya agama Islam
ke tanah Jawa. Seorang Bupati putra dari Brawijaya yang beragama Islam 
disekitar tahun 1500 bernama
raden Patah/Jin Bun/R. Bintoro dan berkedudukan di Demak, secara terbuka 
memutuskan ikatan dari
Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan daerah-daerah lain 
yang telah Islam
(seperti Gresik, Tuban dan Jepara), ia mendirikan kerajaan Islam yang berpusat 
di Demak.

Namun keberadaan kerajaan Demak tak pernah sepi dari rongrongan pemberontakan. 
Dimasa pemerintahan
raja Trenggono, walau berhasil menalukkan Mataram dan Singhasari. Tapi 
perlawanan perang dan
pemberontakan tetap terjadi di beberapa daerah yang memiliki basis kuat 
keyakinan Hindu. Sehingga,
daerah Pasuruan serta Panarukan dapat bertahan dan Blambangan tetap menjadi 
bagian dari Bali yang
tetap Hindu. Di tahun 1548, raja Trenggono wafat akibat perang dengan Pasuruan.

Kematian Trenggono menimbulkan perebutan kekuasaan antara adiknya dan putranya 
bernama pangeran
Prawoto yang bergelar Sunan Prawoto (1549). Sang adik berjuluk pangeran Seda 
Lepen terbunuh di tepi
sungai dan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh anak dari pangeran Seda 
Lepen yang bernama Arya
Panangsang.

Tahta Demak dikuasai Arya Penangsang yang terkenal kejam dan tidak disukai 
orang, sehingga timbul
pemberontakan dan kekacauan yang datangnya dari kadipaten-kadipaten. Apalagi 
ketika adipati Japara
yang mempunyai pengaruh besar dibunuh pula, yang mengakibatkan si adik dari 
adipati japara berjuluk
Ratu Kalinyamat bersama adipati-adipati lainnya melakukan pemberontakan dalam 
bentuk gerakan melawan
Arya Panangsang. Salah satu dari adipati yang memberontak itu bernama 
Hadiwijoyo berjuluk Jaka
Tingkir, yaitu putra dari Kebokenongo sekaligus menantu Trenggono yang masih 
ada hubungan darah
dengan sang raja.

Jaka Tingkir, yang berkuasa di Pajang Boyolali, dalam peperangan berhasil 
membunuh Arya Penangsang.
Dan oleh karena itu ia memindahkan Karaton Demak ke Pajang dan ia menjadi raja 
pertama di Pajang.
Dengan demikian, habislah riwayat kerajaan Islam Demak.

Trenggano dalam perekonomian kerajaan Demak

Pada akhir Majapahit, berdirilah kerajaan Demak yang didirikan Raden Patah dibantu oleh para Wali dan guru agama. Akhirnya oleh Prabu Brawijaya, Raden Patah diijinkan dan bahkan diangkat menjadi Bupati di Bintara Demak pada tahun 1503. Kemajuan Bintara sangat pesat dan pengaruhnya sampai menyusup ke daerah Majapahit. Beberapa bangsawan Majapahit sudah mulai masuk Islam. Tahun 1509 Raden Patah diangkat sebagai Sultan Demak dengan Gelarnya Sultan Jimbun Ngalam Akbar atau Panembahan Jimbun. Dia memerintah sampai tahun 1518 dan digantikan oleh Adipati Umus (1518 – 1521). Usaha penaklukan Majapahit baru terlaksana pada tahun 1525, yaitu pada masa kekuasaan Sultan Trenggono ( 1521 – 1546 ).

Dengan keruntuhan Majapahit tahun 1525, maka kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam di Jawa menjadi penguasa tunggal. Sedang sisa – sisa penguasa Majapahit yang tidak mau tunduk ke Demak memindahkan pusat kerajaannya ke Sengguruh. Ada pula yang menyingkir ke Ponorogo dan lereng Gunung Lawu.

Setelah R. Patah menjadi raja dia mulai menata wilayah kerajaan. Kota Demak dijadikan pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam ke seluruh Jawa. Sebagai lambang negara Islam dibangunlah sebuah masjid Agung yang merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu.

Ekspedisi pemboyongan dipimpin oleh Sunan Kalijaga tampak berjalan lancar. Setelah sampai di Mrapen mereka merasa sangat lelah. Kemudian rombongan itu beristirahat disitu. Karena tidak ada air untuk minum, maka Sunan Kalijogo bersemedi memohon kepada Tuhan diberi air untuk minum para pengikutnya. Tongkat wasiatnya ditancapkannya ke tanah, kemudian dicabutnya. Tetapi yang keluar bukan air namun api yang tidak dapat padam (Api Abadi). Sejak itulah tempat itu disebut Mrapen.

Kemudian di tempat lain dilakukan hal yang sama dan keluarlah pancuran air yang jernih, yang dapat diminum. Demikian rombongan itu minum dan setelah hilang lelahnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Demak. Sesampainya di Demak barang – barangnya yang dibawa diteliti. Ternyata ada yang ketinggalan di Mrapen, berupa sebuah ompak (alis tiang). Sunan Kalijaga menyatakan ompak itu tidak perlu diambil sebab nantinya akan banyak gunanya. Batu ompak itu kemudian dikenal dengan Watu Bobot.

Suatu ketika Sunan Kalijaga mengajak Jaka Supo pergi ke hutan mencari kayu jati yang cocok untuk dibuat “Saka Guru“ Masjid Agung Demak. Jaka Suko adalah Putra Tumenggung Mpu Supodriyo, seorang Wedana Bupati Mpu (tukang membuat alat perang dari besi) Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu Jaka Supa sendiri telah menjabat sebagai jajar Mpu walaupun dia abdi Majapahit, tetapi dia telah belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga.

Selama Sunan Kalijaga mengembara di hutan mencari kayu tersebut, dia berjumpa dengan Dewi Rasa Wulan yang sedang “Tapa Ngidang“. Dewi Rasa Wulan sebenarnya adalah adiknya sendiri yang lari dari Kadipaten Tuban, karena ditawari untuk menikah tidak mau. Oleh Sunan Kalijaga, Dewi Rasa Wulan diajak ke Tuban. Di Tuban dia dikawinkan dengan Jaka Supa.

Pada suatu pagi, ketika Jaka Supa yang telah bernama Mpu Supa “Memadai” ( bahasa Jawa : Mandhe ) membuat keris, datanglah Sunan Kalijaga untuk minta kepada Jaka Supa membuat sebuah keris yang baik. Sunan memberinya bahan berupa besi sebesar biji asam (sak klungsu) Jaka Supa heran, dapatkah besi yang sekian besarnya dapat dibuat keris ? tetapi setelah dipegang ternyata besi itu sangat berat dan berubah menjadi sebesar Gunung. Mpu Supa sangat takut kepada Sunan Kalijaga, maka apa yang menjadi perintah Sunan Kalijaga dikerjakan. Sunan Kalijaga memerintahkan supaya keris dibuat di Mrapen. Maka Mpu Supa pergi ke Mrapen membuat keris tersebut. Untuk pembakarannya digunakan api abadi. Watu Bobot digunakan sebagai landasannya. Sedang air sendang juga digunakan sebagai penyepuhnya. Aneh, air yang tadinya jernih setelah dipakai untuk menyepuh keris berubah warna menjadi kuning kecoklat – coklatan sampai sekarang.

Kesultanan Demak, adalah kesultanan Islam

pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden

Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini

sebelumnya merupakan bagian dari kerajaan Majapahit, dan kesultanan ini merupakan pelopor

penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Kesultanan Demak mengalami kemunduran karena terjadi perebutan

kekuasaan antar kerabat kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh

Jaka Tingkir. Salah satu peninggalan

bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan

didirikan oleh para Walisongo. Lokasi

ibukota Kesultanan Demak saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa

Tengah.

1. Cikal-bakal Demak

Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara

praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri.

Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut

saling serang, saling mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit.

Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu

Raden Patah dan Ki Ageng

Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari

Walisongo, Ki Ageng Pengging

mendapat dukungan dari Syech Siti

Jenar.

2. Demak di bawah Pati Unus

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Invasi Kesultanan Demak ke

Malaka

Demak di bawah Pati Unus adalah

Demak yang berwawasan nusantara. Visi

besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang

besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan

pendudukan Portugis di Malaka. Dengan

adanya Portugis di Malaka, kehancuran

pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu.

3. Demak di bawah Sultan Trenggono

Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan

Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai

daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527),

Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang

(1545), dan Blambangan,

kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546).

Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan

Trenggono. Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto

4. Kemunduran Demak

Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus. Ia

ditentang oleh adik Sultan Trenggono, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen.

Pangeran Sekar Seda Lepen akhirnya terbunuh. Pada tahun 1561 Sunan

Prawoto beserta keluarganya “dihabisi” oleh suruhan

Arya Penangsang, putera Pangeran

Sekar Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta

Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri

adipati Jepara, dan hal ini menyebabkan

banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.

Arya Penangsang akhirnya berhasil dibunuh dalam peperangan oleh

pasukan Joko Tingkir, menantu Sunan

Prawoto. Joko Tingkir memindahkan istana Demak ke Pajang, dan di sana ia mendirikan Kesultanan Pajang.

Raden Patah adalah pendiri Kesultanan Demak yang memerintah tahun

1475-1518.

1. Asal-Usul Raden Patah

Terdapat berbagai versi tentang asal-usul pendiri Kesultanan Demak.

Menurut Babad Tanah

Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang

selir Cina. Karena Ratu Dwarawati sang

permaisuri yang berasal dari Campa merasa

cemburu, Brawijaya terpaksa memberikan

selir Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah,

putri Cina dinikahi Arya Damar,

melahirkan Raden Kusen.

Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama asli Raden Patah

adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias

Bhre Kertabhumi) raja Majapahit (versi Pararaton) dari selir Cina. Kemudian selir Cina diberikan kepada seorang

peranakan Cina bernama Swan

Liong di Palembang. Dari

perkawinan kedua itu lahir Kin San. Kronik Cina ini memberitakan tahun kelahiran

Jin Bun adalah 1455. Mungkin Raden Patah lahir saat Bhre Kertabhumi belum menjadi raja

(memerintah tahun 1474-1478).

Menurut Purwaka Caruban Nagari, nama asli selir Cina

adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo

dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang

saudagar dan juga ulama bergelar Syaikh

Bantong.

Menurut Sejarah Banten, Pendiri Demak bernama Cu Cu, putra mantan

perdana menteri Cina yang pindah ke Jawa. Cu Cu mengabdi ke Majapahit dan berjasa menumpas pemberontakan

Arya Dilah bupati Palembang. Berita ini

cukup aneh karena dalam Babad

Tanah Jawi, Arya Dilah adalah nama lain Arya Damar, ayah angkat Raden Patah sendiri.

Selanjutnya, atas jasa-jasanya, Cu Cu menjadi menantu raja Majapahit dan dijadikan bupati Demak bergelar Arya

Sumangsang.

Menurut Suma Oriental karya Tome Pires, pendiri Demak bernama Pate Rodin, cucu

seorang masyarakat kelas rendah di Gresik.

Meskipun terdapat berbagai versi, namun terlihat kalau pendiri

Kesultanan Demak memiliki

hubungan dengan Majapahit, Cina, Gresik, dan Palembang.

2. Raden Patah Mendirikan Demak

Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang. Ia kabur ke pulau Jawa ditemani Raden Kusen. Sesampainya

di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan

Glagah-wangi menjadi sebuah pesantren.

Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat

memeberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi

Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.

Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau

mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat

sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintoro.

Menurut kronik Cina, Jin Bun

pindah dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi di Majapahit resah. Namun, berkat bujukan Bong Swi

Hoo (alias Sunan Ampel),

Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan

meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo.

Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar tahun

1293 hingga 1500

M dan berpusat di pulau Jawa bagian timur. Kerajaan ini pernah menguasai

sebagian besar pulau Jawa, Madura,

Bali, dan banyak wilayah lain di Nusantara. Majapahit dapat dikatakan sebagai

kerajaan terbesar di antara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara dan termasuk yang terakhir sebelum

berkembang kerajaan-kerajaan bercorak Islam

di Nusantara.

1. Sumber catatan sejarah

Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah

Pararaton (‘Kitab

Raja-raja’) dalam bahasa Kawi dan

Nagarakretagama

dalam bahasa Jawa Kuna. [1]

Pararaton terutama menceritakan Ken

Arok (pendiri Kerajaan

Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai

terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama

merupakan puisi Jawa Kuna yang

ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang

terjadi tidaklah jelas. [1] Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuna maupun catatan

sejarah dari Tiongkok dan negara-negara

lain.

Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut dipertentangkan.

Tidak dapat disangkal bahwa sumber-sumber itu memuat unsur

non-historis dan mitos. Namun demikian, garis besar sumber-sumber

tersebut sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok. Khususnya,

daftar penguasa dan keadaan kerajaan ini tampak cukup pasti.

[1]

2. Sejarah

2. 1. Berdirinya Majapahit

Lihat artikel Raden Wijaya

untuk kronologi yang lebih rinci.

Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi semula di Candi Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional Republik Indonesia.

Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu

sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi semula di Candi Simping,

Blitar, kini menjadi

koleksi Museum Nasional Republik

Indonesia.

Sesudah Singhasari mengusir

Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan

pada tahun 1290, kekuasaan Singhasari yang naik menjadi perhatian

Kubilai Khan di China dan dia mengirim duta yang menuntut upeti. Kertanagara

penguasa kerajaan Singhasari menolak untuk membayar upeti dan Khan

memberangkatkan ekspedisi menghukum yang tiba di pantai Jawa tahun

1293. Ketika itu, seorang pemberontak dari

Kediri bernama Jayakatwang sudah

membunuh Kertanagara. Kertarajasa

atau Raden Wijaya, yaitu anak menantu Kertanegara, kemudian

bersekutu dengan orang Mongol untuk

melawan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya

berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik

pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut. [1]

Pada tahun 1293 itu pula Raden Wijaya membangun daerah

kekuasaannya di tanah perdikan daerah Tarik, Sidoarjo, dengan pusatnya yang

diberi nama Majapahit. Ia dinobatkan dengan nama resmi

Kertarajasa Jayawarddhana.

2. 2. Kejayaan Majapahit

Penguasa Majapahit paling utama ialah Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun

1350 hingga 1389.

Pada masanya, keraton Majapahit diperkirakan telah dipindahkan ke

Trowulan (sekarang masuk wilayah

Mojokerto).

Gajah Mada, seorang patih dan

bupati Majapahit dari 1331 ke 1364, memperluas kekuasaan kekaisaran ke pulau

sekitarnya. Pada tahun 1377, yaitu beberapa tahun sesudah kematian

Gajah Mada, angkatan laut Majapahit menduduki Palembang [1] ,

menaklukkan daerah terakhir kerajaan Sriwijaya.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah

kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluas wilayah Indonesia

modern, termasuk daerah-daerah Sumatra di

bagian barat dan di bagian timur Maluku serta sebagian Papua (Wanin), dan beberapa negara Asia Tenggara [1] . Namun demikian, batasan

alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut

tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit,

tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin

berupa monopoli oleh raja [1] . Majapahit juga memiliki hubungan

dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke

China [1] .

2. 3. Jatuhnya Majapahit

Sesudah mencapai puncaknya pada abad

ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya

terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406,

antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah

terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an,

dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan

pada tahun 1468 [1] .

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna

ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun

berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun

1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah

kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh

candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh

Girindrawardhana [1] .

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai

memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15,

pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat

bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama

Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di

bagian barat nusantara [1] .

Catatan sejarah dari China, Portugis, dan Italia mengindikasikan

bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan

penguasa Hindu ke tangan Adipati

Unus, penguasa dari Kesultanan

Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M [1] .

3. Kebudayaan

Gapura Bajangratu, diduga kuat menjadi gerbang masuk keraton Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di kompleks Trowulan.

Gapura Bajangratu, diduga kuat menjadi gerbang masuk

keraton Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di kompleks

Trowulan.

Ibu kota Majapahit di Trowulan

merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan

yang diselenggarakan setiap tahun. Agama

Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu)

dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus

titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu. Nagarakertagama tidak

menyebut keberadaan Islam, namun tampaknya

ada anggota keluarga istana yang beragama Islam pada waktu itu [1]

.

Walaupun batu bata telah digunakan

dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek

Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya [1] . Candi-candi

Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan

getah pohon anggur dan gula merah

sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat

ditemui sekarang adalah Candi Tikus

dan Candi Bajangratu di

Trowulan, Mojokerto.

3. 1. Ekonomi

Majapahit merupakan negara agraris dan

sekaligus negara perdagangan [1] .

Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari

India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan

maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa [1] .

Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas

ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak

tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak,

sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat

dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga [1] .

Selain itu, catatan Odorico da

Pordenone, biarawan Katolik Roma

dari Italia yang mengunjungi Jawa pada

tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja

Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata [1] .

3. 2. Struktur pemerintahan

Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi

yang teratur pada masa pemerintahan Hayam

Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak

banyak berubah selama perkembangan sejarahnya [1] . Raja dianggap

sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik

tertinggi.

3. 2. 1. Aparat birokrasi

Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan

pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki

kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada

pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:

* Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat

putra-putra raja

* Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang

melaksanakan pemerintahan

* Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan

* Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan

Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang

pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau

Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai

perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan

kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan

pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang

disebut Bhattara Saptaprabhu.

3. 2. 2. Pembagian wilayah

Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang

disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara

atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan

kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya

masing-masing. Dalam Prasasti

Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit

dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang

bergelar Bhre. [2] Daerah-daerah bawahan tersebut

yaitu:

* Daha

* Jagaraga

* Kabalan

|

* Kahuripan

* Keling

* Kelinggapura

|

* Kembang Jenar

* Matahun

* Pajang

|

* Singhapura

* Tanjungpura

* Tumapel

|

* Wengker

* Wirabumi

4. Raja-raja Majapahit

Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa

terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana

(penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh

krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi

dua kelompok [1] .

1. Raden Wijaya, bergelar

Kertarajasa Jayawardhana (1293 – 1309)

2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara

(1309 – 1328)

3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi

(1328 – 1350)

4. Hayam Wuruk, bergelar Sri

Rajasanagara (1350 – 1389)

5. Wikramawardhana (1389 – 1429)

6. Suhita (1429 –

1447)

7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I

(1447 – 1451)

8. Rajasawardhana, bergelar

Brawijaya II (1451 – 1453)

9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III

(1456 – 1466)

10. Pandanalas, atau Suraprabhawa,

bergelar Brawijaya IV (1466 – 1468)

11. Kertabumi, bergelar Brawijaya V

(1468 – 1478)

12. Girindrawardhana, bergelar

Brawijaya VI (1478 – 1498)

13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII

(1498-1518)

5. Warisan sejarah

Arca pertapa Hindu dari masa Majapahit akhir. Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

Arca pertapa Hindu dari masa Majapahit akhir. Koleksi

Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi

bangsa Indonesia pada abad-abad berikutnya. Kesultanan-kesultanan

Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan

legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit.

Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton

Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri

Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan.

Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun

1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan

Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi

ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan

silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan

keluarga kerajaan Majapahit — sering kali dalam bentuk makam

leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting — dan

legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali

secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit, dan

masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati kebudayaan

Majapahit. [1]

Para penggerak nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka

yang terlibat Gerakan

Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada

Majapahit sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit

kadang dijadikan acuan batas politik negara Republik Indonesia saat

ini. [1] Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia

menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai

penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. [3] Sukarno

juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa,

sedangkan Orde Baru menggunakannya

untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara. [4]

Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah

yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.

Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam

bidang arsitektur di Indonesia.

Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan

di ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah

menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa serta Pura

dan kompleks perumahan masyarakat di Bali

masa kini.

6. Majapahit dalam kesenian modern

Kebesaran kerajaan ini dan berbagai intrik politik yang terjadi

pada masa itu menjadi sumber inspirasi tidak henti-hentinya bagi

para seniman masa selanjutnya untuk menuangkan kreasinya, terutama

di Indonesia. Berikut adalah daftar beberapa karya seni yang

berkaitan dengan masa tersebut.

6. 1. Puisi lama

* Serat Darmagandhul, sebuah kitab yang tidak jelas

penulisnya karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi, namun diperkirakan dari masa

Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang hal-hal yang

berkaitan dengan perubahan keyakinan orang Majapahit dari agama

sinkretis “Buda” ke Islam dan

sejumlah ibadah yang perlu dilakukan sebagai umat Islam.

6. 2. Komik dan strip komik

* Serial “Mahesa Rani”

karya Teguh Santosa yang dimuat di

Majalah Hai, mengambil latar belakang pada

masa keruntuhan Singhasari hingga

awal-awal karier Mada (Gajah Mada),

adik seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa Rani.

* Komik/Cerita bergambar Imperium

Majapahit, karya Jan

Mintaraga.

* Komik Majapahit karya R.A.

Kosasih

* Strip komik “Panji Koming” karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar

“Kompas” edisi

Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit

bernama Panji Koming.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s